Rabu, 14 Januari 2015

Bahasa Indonesia - Footnote, Ibid, Loc.Cit, Op.Cit.








TRAGEDI AIRASIA QZ-8501



AirAsia adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif murah yang berpusat di Bandara Internasional Kuala Lumpur. AirAsia memiliki beberapa kode untuk pesawatnya yaitu kode IATA International Air Transport Association (Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional): AK, Kode ICAO International Civil Aviation Organization Organisasi Penerbangan Sipil Internasional adalah sebuah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa.: AXM, Kode panggil : ASIAN EXPRESS, Kode panggil (Indonesia Air Asia): QZ, Kode panggil (Thai Air Asia): FD, Kode panggil (Air Asia X): D7.
Awalnya AirAsia dimiliki oleh DRB-HICOM milik Pemerintah Malaysia namun maskapai ini memiliki beban yang berat dan akhirnya dibeli oleh mantan eksekutif Time Warner, Tony Fernandes, dengan harga simbolik 1 Ringgit pada 2 Desember 2001. Tony melakukan turnaround dan AirAsia berhasil membukukan laba pada 2002 dengan berbagai rute baru dan harga promosi serendah 10 RM bersaing dengan Malaysia Airlines.
Pada 2003, dibukalah pangkalan kedua di Bandara Senai, Johor Bahru dekat Singapura dan AirAsia melakukan penerbangan internasionalnya ke Thailand. Sejak itu, dibukalah Thai AirAsia dan dilakukanlah berbagai penambahan rute seperti ke Singapura dan Indonesia. Penerbangan ke Makau dimulai pada Juni 2004 sedangkan penerbangan ke Manila dan Xiamen dimulai pada April 2005. Rute lain yang akan dibuka adalah ke Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Laos.
Selain Thai AirAsia, di Indonesia juga terdapat perusahaan AirAsia yaitu Indonesia AirAsia (sebelumnya bernama AWAIR) yang terbang dari Jakarta ke Yogyakarta, Denpasar untuk tujuan lokal, dan dari Surabaya ke Medan untuk rute domestik lainnya, selain itu penerbangan dilakukan keluar Indonesia melalui kota-kota besar seperti Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Balikpapan dan Makassar
Pada hari kamis (17/11/2011) terminal AirAsia di bandara Soekarno Hatta, Indonesia secara resmi berpindah dari terminal 2 menjadi terminal 3, dimana melanyani penerbangan domestik maupun internasional. Kini, AirAsia Indonesia melayani 26 rute dengan 52 penerbangan yang terkoneksi melalui lima bandara hub (penghubung), yakni Cengkareng, Bandung, Denpasar, Surabaya, dan Medan. [2] [3]
Pada tanggal 28 Desember 2014 lalu Sebuah pesawat milik maskapai Air Asia dengan rute penerbangan Surabaya-Singapura pagi ini mengalami hilang kontak dengan ATC Bandara Internasional Juanda Surabaya. Pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membenarkan pesawat itu hilang kontak 8 menit setelah take off.
"Benar," ujar Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Djoko Muryatmojo saat dihubungi detikcom, Minggu (28/12/2014).
Sedangkan Kapuskom Publik Kemenhub JA Barata mengatakan Kemenhub masih menelusuri pesawat itu.
"Jadi gini status pesawat itu hilang kontak dan sekarang masih ditelusuri," ujar Kapuskom Publik Kemenhub JA Barata, saat dihubungi detikcom, Minggu (28/12/2014).
Barata mengungkapkan, pihaknya menerima informasi hilang kontak dengan Air Asia tepat 8 menit setelah lepas landas (take off).
"Informasi yang kami terima pas take off 8 menit terus langsung hilang kontak," lanjutnya.
"Sementara informasinya itu dulu, nanti detilnya lagi akan diinforkan," sambung Barata..
Pesawat AirAsia dari Bandara Juanda Surabaya ke Singapora nomor penerbangan QZ 8501 hilang kontak oleh ATC (air traffic control) Jakarta pagi tadi, Minggu (28/12/2014). Diperkirakan pesawat hilang di atas Kepulauan Kalimantan atau Tanjung Pandan.
"ATC Jakarta kehilangan kontak pesawat sekitar Kepulauan Kalimantan atau Tanjung Pandan," kata General Manager PT Angkasa Pura I Juanda, Trikora Hardjo, saat dihubungi detikcom, Minggu (28/12/2014).
Pesawat AirAsia berpenumpang 155 orang terdiri dari 130 dewasa, 24 anak dan 1 bayi, berangkat dari Bandara Juanda Surabaya ke Singapura nomor penerbangan QZ 8501 hilang kontak. Pesawat yang membawa penumpang 138 orang dewasa, 24 anak dan 1 bayi, berangkat pukul 05.20 WIB.
Badan SAR Nasional langsung menerjunkan para personelnya untuk mencari keberadaan pesawat Air Asia yang hilang. Sebanyak 200 personel Basarnas diluncurkan ke titik yang dipastikan sebagai Tempat Kejadian Perkara (TKP) jatuhnya pesawat itu yaitu di perairan sebelah timur Pulau Belitung.
"Ada 200 orang personel yang kita on boat-kan di kapal. Baik dari Tanjung Pinang maupun Jakarta akan kita berangkatkan ke lokasi, di sebelah timur dari Pulau Belitung," kata Deputi Operasi Basarnas Mayjen TNI Tatang Zaenudin di kantornya, Jl Angkasa Blok 15, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (28/12/2014).
Tatang juga akan segera meluncur ke lokasi kejadian. Tatang harus segera berangkat karena akan memimpin operasi ini.
"Saya juga akan berangkat dengan heli. Dalam waktu dekat ini akan berangkat. Saya yang pimpin langsung operasi ini," kata Tatang yang mengenakan seragam Basarnas warna oranye ini.

Seperempat jam setelah Kantor SAR Pangkal Pinang menerima informasi tentang pesawat yang hilang kontak, personel sudah mulai bergerak ke lokasi jatuhnya pesawat itu. Personel tersebut berasal dari Pontianak, Palembang, dan Tanjung Pinang. Mereka diberangkatan dengan delapan kapal dari Basarnas. Koordinasi juga dilakukan dengan Lantamal dan Polair yang ada di wilayah tersebut.
"Sudah kita koordinasikan bersama-sama untuk operasi ini," tandasnya

Trikora Hardjo, "ATC Jakarta kehilangan kontak pesawat sekitar Kepulauan Kalimantan atau Tanjung Pandan," (Surabaya : PT Angkasa Pura I Juanda, 2014), h. 2.
Hardjo , loc.cit.
Ibid, h. 1-3.
Hardjo , op.cit.

Referensi :